Saturday, September 21, 2013

Selalu Periksa Paspor Anda

Kejadian ini pernah saya alami sewaktu saya hendak ke Malaysia untuk kedua kalinya. Waktu itu ketika saya akan berangkat ke Malaka dari Bengkalis, saya tidak diperbolehkan pergi karena paspor saya bermasalah. Tidak ada cap kedatangan dari perjalanan sebelumnya di paspor saya. Sebelumnya saya melakukan perjalanan dari Malaka ke Dumai. Biasanya pelayaran Malaka-Dumai menerapkan sistem imigrasi on board yang mungkin pada waktu itu saya melewatkannya. Sehingga sampai di pelabuhan Dumai saya langsung saja meninggalkan pelabuhan tanpa mengecek kembali paspor saya.

Saat itu saya sempat panik dan menelepon teman saya yang bekerja di Kantor Imigrasi Cilegon. Menurut teman saya tersebut, paspor wajib di cap saat kedatangan dan kepergian. Teman saya tersebut menyarankan agar bilang saja ke petugas imigrasi bahwa tujuan saya ke Malaka yaitu untuk medical check up. Setelah semua penumpang lain selesai urusan imigrasi, saya dibawa ke ruangan khusus. Paspor saya dibawa oleh petugas imigrasi yang lebih senior. Saya ditanya macam-macam mulai dari tujuan keberangkatan, pergi bersama siapa, dan lain-lain. Untungnya saat itu saya berangkat bersama teman saya yang kebetulan kenal dengan kapten kapal yang akan berangkat tersebut. Kapten kapal tersebut, Pak Ari, mengatakan bahwa tujuan saya dan teman saya yaitu untuk MCU. Akhirnya petugas imigrasi tersebut pun luluh dan blam, paspor saya pun di cap. Tetapi saya diceramahi macam-macam dan tetap harus ke Dumai untuk mengecap paspor saya.

Cap keberangkatan dan kedatangan di paspor

Seminggu kemudian setelah kembali dari Malaka, saya pergi ke Dumai untuk mengecap paspor saya. Petugas imigrasi Dumai pun menceramahi saya setelah mengecap paspor saya. Tetapi itu menjadi pengalaman berharga bagi saya agar selalu mengecek paspor saya setiap akan dan setelah melakukan perjalanan luar negeri. Lain lagi cerita yang terjadi kepada salah satu teman saya. Teman saya tersebut ditolak masuk ke Malaysia oleh petugas imigrasi Malaysia di Muar karena masa berlaku paspornya kurang dari enam bulan. Teman saya tersebut harus rela kembali lagi ke Indonesia pada saat itu juga.

Travelover: An Introduction

Entah sejak kapan saya mulai menyukai traveling. Yang jelas dulu saya adalah orang rumahan, malas kalau mau pergi kemana-mana. Saya lebih senang bermain game di kamar daripada harus keluar rumah. Mungkin karena saya orangnya agak pemalu jadi malas kalau bertemu banyak orang. Saya ingat sewaktu Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Jepara, teman-teman saya sampai harus memaksa saya untuk ikut jalan-jalan ke Pantai Kartini. Dengan berat hati akhirnya saya ikut mereka.

Tetapi itu dulu. Sekarang justru saya yang agak kesulitan mencari teman untuk traveling bareng. Meskipun bagi saya tidak terlalu bermasalah untuk traveling sendiri. Masalah bagi saya sewaktu solo traveling adalah koleksi foto menjadi lebih sedikit. Karena sifat pemalu saya masih ada jadi agak sungkan untuk meminta bantuan orang lain mengambil gambar saya. Untuk style traveling, mungkin saya lebih cocok dibilang flashpacker daripada backpacker. Saya lebih suka bertualang di kota-kota atau desa-desa dibandingkan naik gunung atau ke pulau terpencil. Selain bisa melihat landmark dan pusat keramaian kota, saya juga bisa belajar budaya baru dan bertemu banyak orang menarik. Selain itu, saya lebih senang melakukan perjalanan di malam hari karena waktu kita di malam hari tidak hanya digunakan untuk tidur, tetapi juga untuk perjalanan. Sewaktu kita bangun pagi, voila, sampailah di kota berikutnya. Biaya penginapan pun bisa dihemat. Sedangkan pagi sampai sore harinya manfaatkanlah waktu sebaik mungkin untuk mengeksplorasi tempat tujuan kita.

Banyak yang menginspirasi saya sehingga saya menjadi hobi jalan-jalan. Selain Nabi Muhammad SAW yang melakukan hijrah dari Mekkah ke Madinah, film semacam Into the Wild dan Euro Trip sangat menginspirasi saya. Buku-buku The Naked Traveler-nya Trinity, Edensor milik Andrea Hirata, dan 99 Cahaya di Langit Eropa karya Hanum Salsabila Rais juga berpengaruh besar. Saya menjadi sadar bahwa dunia itu sangat luas, dan yang saya lihat dan rasakan sekarang hanyalah sebagian kecil dari dunia.

Traveling tidak melulu harus ke luar negeri atau ke destinasi wisata populer yang jauh dari kota anda. Mungkin di kota anda sendiri masih banyak sisi lain yang sangat menarik yang belum anda ketahui. Jadi, dimana pun anda berada, traveling lah. Bagaimanapun gaya traveling anda. Karena kita tidak akan bisa berkembang apabila kita terus menerus berada di satu tempat. Tunggu apa lagi. Pack up buddy!